Emosional Politisi

Sikap Emosional Politisi di tiap partai yang kadernya tersandung masalah memang beda-beda. Seperti yang ditunjukkan oleh kader PKS dan Partai Demokrat ini bisa dijadikan diskusi. Ketum PKS yang ditersangkakan oleh KPK atas quota impor daging sapi dan ketum PD yang ditersangkakan atas kasus Hambalang layak disimak.

Anis Matta, kader PKS yang menggantikan ketum lama begitu menunjukkan rasa hormat dan cintanya, meskipun kasusnya tidak ringan. Namun semalam Indonesian Lawyers Club (ILC) di TVOne kita bisa melihat salah satu ketua DPP PD Ruhut Sitompul berapi-api memaparkan halaman berikutnya yang akan dialami sang mantan ketum AU tanpa rasa hormat dan cinta, tapi lebih sebagai harapan dia. Dia katakan halaman-halaman berikutnya adalah AU disidik, disidang, ditahan, didakwa, dan akhirnya dinarapidanakan, sepertinya dia mempunyai kemampuan melayout buku kasus AU. Inilah satu lagi bukti bahwa AU khilaf memilih rumah politiknya, atau saya kadang juga menduga AU sedang menjalani dan menikmati permainan kartu as atau truff di "Core of Power".

"Core of Power" penulis prediksi akan menjadi keyword dalam buku yang sedang disusun AU dihari-hari kedepan.
 

Tokoh-tokoh HMI yang menonjol

Seekor Macan dewasa berbulu bersih, tak begitu suka makan daging dan darah. Aumannya tajam tapi tak menakutkan, membuat enak ditonton dan didengar. Anak-anak kecilpun tidak menjadi takut, orang dewasapun sering menunggu-nunggu penampakannya.

Komunitas macan yang sudah melahirkan banyak para pemimpin bangsa, ada yang teknokrat, birokrat, politisi, meski tidak semuanya memiliki ruh negarawan.

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) penulis representasikan dalam dua alinea di atas. Tak berlebihan semoga, tak berkurangan pastinya. Karena kita semua tahu siapakah tokoh-tokoh yang telah lahir dari kandungan HMI mengisi warna warni bangsa Indonesia. Inilah 10 tokoh alumni HMI yang paling menonjol :
  1. Ahmad Syafi'i Ma'arif
  2. Alm. Nurcholis Madjid
  3. Akbar Tandjung
  4. Moh. Mahfud MD
  5. Munir Said Thalib
  6. Jusuf Kalla
  7. Mar'i Muhammad
  8. Fahmi Idris
  9. Siswono Yudo Husodo
  10. Anas Urbaningrum
Yang tua, yang muda, mereka cerdas, berwawasan luas, berjiwa pemimpin, religius. Hitam, putih, merah, biru, hijau, kuning, pernah jadi warna jaket mereka. Mampukah mereka memperjuangkan kejayaan bangsa Indonesia dan melestarikan jiwa kejuangan kepada generasi penerus bangsa ini. Kita ikuti saja halaman demi halaman yang lain.


 

Preambule untuk Anas Urbaningrum

Saat penulis tahu Anas Urbaningrum (AU) masuk sebagai kader Partai Demokrat (PD) terus terang sangat heran tak karuan. Bagaimana tidak sosok AU di sepak terjangnya dikancah aktivis dia seorang yang innocence, smart, light, entah mengapa dia "khilaf" masuk partai. Emang sih untuk menjadi pejuang politik di negara ini nonsen kalo bekerja diluar partai. Tapi penulis mempunyai penilaian khusus untuk AU, dia pasti bisa berjuang tanpa harus rela dipolitisasi.

Momen hengkangnya AU dari PD semoga dapat mengembalikan keyakinan penulis tentang semua thesis yang penulis yakini selama ini. AU bertobatlah, kembalilah ke jati diri, jangan mau smart-mu dibelenggu, jangan mau innocence-mu di kotori, jangan mau light-mu redup.

Katamu halaman pertama sedang dibuka, oke terus simaklah halaman demi halaman permainanmu. Jadikan halaman demi halaman yang kamu maksud seperti permainan kanak-kanakmu dulu. Main gundu, adu layangan, petak umpet, main bola, permainkan dan nikmati lagi untuk mengisi halaman-halaman ujianmu.

Maaf, aku tidak menyalahkanmu. Maaf juga kalo aku tidak membelamu. Tanggungjawab harus engkau pikul sekuat tenaga karena kekhilafanmu.

Semoga tali gantungan di monas tidak akan pernah akan terjadi, meskipun harus digantikan jeruji besi ataupun timah panas menembus jantungmu.

( harapan anak bangsa yang ingin merdeka )
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. anas sang cerdas - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger