Latest Post

Preview halaman # 2

Kasus Bank Century
Timwas mendapat nama baru dari Anas. Nama tersebut disinyalir mengetahui soal aliran dana kasus Century. Namun, sampai saat ini nama itu masih misterius. Lalu siapakah nama baru yang dimaksud Anas?
Inilah Preview memasuki halaman 2 buku AU, tampaknya seputar Bailout Bank Century. Sebuah amunisi yang berat ini diusung AU dalam "perlawanannya" atas "aniaya" yang AU alami. Tampaknya Timwas tersulut semangatnya bagaikan battrei yang ngedrop tiba-tiba di charge dengan tenaga listrik dari petir, langsung full bat!

Doa SBY vs doa Poltak 
Dilain kesempatan Ketua Majelis Tinggi PD mengutarakan harapan agar AU dalam proses hukum kasus Hambalang terbukti bebas dari dakwaan seperti yang selama ini dia dakwakan. Lain SBY lain kroconya, dalam dialog di Indonesia Lawyer Club, TVOne salah satu ketua DPP PD Ruhut "Poltak" Sitompul malah yakin kalau akhir kisah AU adalah AU masuk bui!

Nasib Daftar Caleg PD
AU saat sebagai ketum PD kenapa tidak melihat celah lemah AD/ART PD? Saya menduga AU sudah tahu, makanya dia menyatakan berhenti bukannya mengundurkan diri dengan cara administratif. Alhasil DPP PD minta dispensasi ke KPU untuk diberi kelonggaran waktu karena tidak punya ketum. Tak pelak solusi terbaik adalah KLB yang pastinya banyak menguras sumber daya partai, belum lagi konsolidasi partai yang tidak mudah.

Sim salabim Simulator SIM
Masih ditelusuri keterlibatan partai penguasa atas kasus Simulator SIM yang melibatkan Irjen Djoko Susilo. Akankah kearah sana?

 

Hal#1>Almost Core of Power

Kemarin penulis sudah menduga permainan AU akan mulai merambah Core of Power dengan disebutnya anak cikeas diduga menerima aliran dana terkait kasus Hambalang. Oooo..! kenapa terlalu terburu-buru ke arah sana! Jangan-jangan buku AU nantinya terlalu tipis. Tapi, nggak juga kalee! soalnya yang ini kan baru hampir ke inti kekuasaan "Almost Core of Power". Jadi pembaca masih punya harapan untuk mendapatkan buku yang cukup tebal. Masih banyak yang dibincangkan diluaran sana, di televisi, di koran, di media online, seminar-seminar dan diskusi. Misal saja, dugaan SPT Ibas yang naik 2 milyar buat apa diblow-up. Kenaikan nilai kekayaan 2 milyar dalam setahun pada seorang muda dinamis dan tinggal di Jakarta saya kira biasa-biasa saja.

Beberapa hari ini media gencar melansir berita dugaan Ibas menerima aliran dana kasus Hambalang nilainya cukup besar juga. Selain Ibas, dugaan juga sudah lama menghampiri AU terkait kepemilikian mobil Toyota Harrier. Dugaan sudah disuarakan meski masih bersifat politis, mereka berdua akan sama-sama berada diujung tanduk. Dampak politis yang muncul dari kedua tokoh tersebut pasti akan mengguncang bak gempa 8 SR di tubuh partai berlambang segitiga mercy itu.

Entah siapa lagi tokoh-tokoh Partai Demokrat yang akan diduga-duga lagi turut bermain di sport zone Hambalang, kita tunggu saja.
 

Emosional Politisi

Sikap Emosional Politisi di tiap partai yang kadernya tersandung masalah memang beda-beda. Seperti yang ditunjukkan oleh kader PKS dan Partai Demokrat ini bisa dijadikan diskusi. Ketum PKS yang ditersangkakan oleh KPK atas quota impor daging sapi dan ketum PD yang ditersangkakan atas kasus Hambalang layak disimak.

Anis Matta, kader PKS yang menggantikan ketum lama begitu menunjukkan rasa hormat dan cintanya, meskipun kasusnya tidak ringan. Namun semalam Indonesian Lawyers Club (ILC) di TVOne kita bisa melihat salah satu ketua DPP PD Ruhut Sitompul berapi-api memaparkan halaman berikutnya yang akan dialami sang mantan ketum AU tanpa rasa hormat dan cinta, tapi lebih sebagai harapan dia. Dia katakan halaman-halaman berikutnya adalah AU disidik, disidang, ditahan, didakwa, dan akhirnya dinarapidanakan, sepertinya dia mempunyai kemampuan melayout buku kasus AU. Inilah satu lagi bukti bahwa AU khilaf memilih rumah politiknya, atau saya kadang juga menduga AU sedang menjalani dan menikmati permainan kartu as atau truff di "Core of Power".

"Core of Power" penulis prediksi akan menjadi keyword dalam buku yang sedang disusun AU dihari-hari kedepan.
 

Tokoh-tokoh HMI yang menonjol

Seekor Macan dewasa berbulu bersih, tak begitu suka makan daging dan darah. Aumannya tajam tapi tak menakutkan, membuat enak ditonton dan didengar. Anak-anak kecilpun tidak menjadi takut, orang dewasapun sering menunggu-nunggu penampakannya.

Komunitas macan yang sudah melahirkan banyak para pemimpin bangsa, ada yang teknokrat, birokrat, politisi, meski tidak semuanya memiliki ruh negarawan.

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) penulis representasikan dalam dua alinea di atas. Tak berlebihan semoga, tak berkurangan pastinya. Karena kita semua tahu siapakah tokoh-tokoh yang telah lahir dari kandungan HMI mengisi warna warni bangsa Indonesia. Inilah 10 tokoh alumni HMI yang paling menonjol :
  1. Ahmad Syafi'i Ma'arif
  2. Alm. Nurcholis Madjid
  3. Akbar Tandjung
  4. Moh. Mahfud MD
  5. Munir Said Thalib
  6. Jusuf Kalla
  7. Mar'i Muhammad
  8. Fahmi Idris
  9. Siswono Yudo Husodo
  10. Anas Urbaningrum
Yang tua, yang muda, mereka cerdas, berwawasan luas, berjiwa pemimpin, religius. Hitam, putih, merah, biru, hijau, kuning, pernah jadi warna jaket mereka. Mampukah mereka memperjuangkan kejayaan bangsa Indonesia dan melestarikan jiwa kejuangan kepada generasi penerus bangsa ini. Kita ikuti saja halaman demi halaman yang lain.


 

Preambule untuk Anas Urbaningrum

Saat penulis tahu Anas Urbaningrum (AU) masuk sebagai kader Partai Demokrat (PD) terus terang sangat heran tak karuan. Bagaimana tidak sosok AU di sepak terjangnya dikancah aktivis dia seorang yang innocence, smart, light, entah mengapa dia "khilaf" masuk partai. Emang sih untuk menjadi pejuang politik di negara ini nonsen kalo bekerja diluar partai. Tapi penulis mempunyai penilaian khusus untuk AU, dia pasti bisa berjuang tanpa harus rela dipolitisasi.

Momen hengkangnya AU dari PD semoga dapat mengembalikan keyakinan penulis tentang semua thesis yang penulis yakini selama ini. AU bertobatlah, kembalilah ke jati diri, jangan mau smart-mu dibelenggu, jangan mau innocence-mu di kotori, jangan mau light-mu redup.

Katamu halaman pertama sedang dibuka, oke terus simaklah halaman demi halaman permainanmu. Jadikan halaman demi halaman yang kamu maksud seperti permainan kanak-kanakmu dulu. Main gundu, adu layangan, petak umpet, main bola, permainkan dan nikmati lagi untuk mengisi halaman-halaman ujianmu.

Maaf, aku tidak menyalahkanmu. Maaf juga kalo aku tidak membelamu. Tanggungjawab harus engkau pikul sekuat tenaga karena kekhilafanmu.

Semoga tali gantungan di monas tidak akan pernah akan terjadi, meskipun harus digantikan jeruji besi ataupun timah panas menembus jantungmu.

( harapan anak bangsa yang ingin merdeka )
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. anas sang cerdas - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger